Karhutla Mengancam Masa Depan Kesehatan Anak: IDAI Soroti 'Paru-paru yang Belum Matang'
Mumbai
Ahmedabad
JAKARTA, (RuangBicara.Id) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia telah memicu kekhawatiran serius dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Bukan sekadar bencana lingkungan tahunan, IDAI menyoroti Karhutla sebagai ancaman langsung terhadap kesehatan pernapasan anak-anak, mengingat sistem pernapasan mereka yang masih dalam tahap perkembangan.
Anak-anak: Korban Tersembunyi dari Kabut Asap
IDAI menekankan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak Karhutla. Organ tubuh mereka, terutama paru-paru dan saluran pernapasan, belum fully developed atau matang sepenuhnya.
Paparan asap Karhutla yang mengandung partikel berbahaya dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan organ-organ vital ini, yang berpotensi menyebabkan masalah kesehatan kronis di masa depan.
PM2.5: Pembunuh Tak Kasat Mata
Salah satu partikel paling berbahaya dalam asap Karhutla adalah PM2.5 (partikulat dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer). Partikel-partikel mikro ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan masuk ke dalam aliran darah, menyebabkan peradangan sistemik dan berbagai masalah kesehatan.
Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp.Respi(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, menjelaskan bahwa PM2.5 dari asap Karhutla 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibandingkan PM2.5 dari sumber lain. Hal ini dikarenakan komposisi kimianya yang memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi.
Himbauan IDAI untuk Orang Tua: Siapkan 'Clean Room' dan Pantau AQI
IDAI menghimbau orang tua di wilayah terdampak Karhutla untuk mengambil langkah-langkah pencegahan demi melindungi kesehatan pernapasan anak-anak mereka.
Berikut adalah beberapa rekomendasi dari UKK Respirologi IDAI:
- Siapkan 'Clean Room': Buat ruangan di rumah dengan ventilasi minimal, pintu dan jendela tertutup, dan gunakan air purifier portable untuk menyaring udara.
- Pantau Kualitas Udara: Gunakan aplikasi atau perangkat untuk memantau Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara rutin.
- Hindari Aktivitas Luar Ruangan: Batasi aktivitas anak di luar ruangan, terutama saat AQI/ISPU menunjukkan level tidak sehat atau berbahaya.
- Gunakan Masker: Jika terpaksa keluar rumah, gunakan masker yang sesuai untuk anak-anak, terutama mereka yang berusia 2 tahun ke atas.
- Jaga Kebersihan Udara di Dalam Rumah: Hindari merokok di dalam rumah, penggunaan kompor gas, dan aktivitas lain yang dapat mencemari udara dalam ruangan.
Dukungan untuk Anak-anak dengan Kondisi Kronis
IDAI juga mengingatkan bahwa anak-anak dengan kondisi kronis seperti asma, alergi, atau penyakit jantung bawaan memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap dampak asap Karhutla. Pastikan obat-obatan rutin dan rescue inhaler selalu tersedia, dan segera cari bantuan medis jika anak mengalami kesulitan bernapas atau penurunan kesadaran.
Pemerintah Daerah: Pantau ISPU dan Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
IDAI merekomendasikan pemerintah daerah di wilayah terdampak Karhutla untuk memantau ISPU minimal dua kali sehari, sebelum dan pertengahan jam sekolah, untuk menentukan moda pembelajaran yang tepat.
Berikut adalah panduan ISPU untuk penyesuaian kegiatan belajar:
- ISPU 1-50 (Baik): Pembelajaran tatap muka normal.
- ISPU 51-100 (Sedang): Batasi aktivitas luar ruangan.
- ISPU 101-200 (Tidak Sehat): Batasi tatap muka, kelompok rentan belajar dari rumah (PJJ).
- ISPU 201-300 (Sangat Tidak Sehat): Seluruh siswa PJJ.
- ISPU >300 (Berbahaya): Seluruh siswa PJJ penuh.
IDAI Siap Bantu Pemerintah dan Orang Tua
IDAI menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya dalam upaya melindungi kesehatan anak-anak dari dampak Karhutla. IDAI juga membuka kesempatan bagi media dan masyarakat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai masalah ini. (dwy)