ZoyaPatel

Tak Sekadar Antar Makanan, Begini Standar Driver SPPG Badean 2 Distribusikan MBG

Mumbai
Bondowoso, (RuangBicara.Id) — Proses distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso Badean 2 ke sekolah tidak sekadar mengantarkan makanan.

Driver harus memastikan kendaraan layak jalan, kondisi fisik prima, jumlah makanan sesuai manifest, hingga keamanan makanan selama perjalanan.

Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, mengatakan kelayakan kendaraan menjadi hal pertama yang harus diperhatikan sebelum proses distribusi dimulai.

Menurutnya, kendaraan harus dalam kondisi bersih, mesin normal, dan sistem pengereman berfungsi dengan baik. Setelah kendaraan dinyatakan layak, kondisi driver juga diperiksa.

"Yang paling utama itu kelayakan kendaraan harus menjadi prioritas. Keadaannya harus bersih, mesin dalam keadaan normal, rem mobil juga normal. Baru kemudian kondisi driver diperhatikan, dalam keadaan sakit atau tidak," kata Yulia.

Pemeriksaan kondisi driver mencakup kondisi kesehatan. Driver tidak boleh dalam keadaan sakit, termasuk sakit menular maupun tidak menular. Selain itu, driver harus dipastikan tidak mengantuk ataupun mengalami kelelahan.

Tak hanya kondisi fisik, kelengkapan administrasi pribadi dan administrasi SPPG juga menjadi bagian dari pemeriksaan sebelum keberangkatan.

Pemeriksaan Kendaraan dengan Skema POWER

Untuk kendaraan, SPPG Badean 2 menerapkan pemeriksaan dengan skema POWER, yang meliputi Petrol, Oil, Water, Electrical, dan Rubber.

Petrol berkaitan dengan kecukupan bahan bakar kendaraan. Kemudian Oil untuk memastikan kondisi dan batas oli mesin dalam keadaan normal.

Selanjutnya Water, yakni pemeriksaan air radiator dan cairan wiper. Pada bagian Electrical, petugas memastikan fungsi kelistrikan kendaraan berjalan normal, termasuk aki, lampu, dan klakson.

Sementara Rubber mencakup kondisi ban. Ban kendaraan tidak boleh gundul dan tekanan anginnya harus sesuai.

"Kelengkapan darurat kendaraan juga diperiksa, biasanya ban serep dan dongkrak. Kemudian kecocokan antara daftar distribusi dan muatan yang dibawa. Terakhir kebersihan kabin dan box muatan," jelasnya.

Dengan pemeriksaan tersebut, kendaraan yang digunakan untuk membawa makanan dipastikan tidak hanya mampu berjalan, tetapi juga memenuhi aspek keselamatan dan kebersihan.

Driver Diberi Briefing

Sebelum menjalankan distribusi, driver juga mendapatkan briefing khusus secara berkala. Materinya antara lain keamanan dan keselamatan di lingkungan sekolah, titik bongkar muat wadah makanan, serta penyusunan rute darurat apabila terjadi kendala di perjalanan.

Kondisi seperti karnaval maupun kemacetan parah harus diantisipasi dengan menyiapkan jalur alternatif.

Sementara briefing harian lebih menekankan ketepatan waktu distribusi. Driver juga diwajibkan melakukan pengecekan jumlah porsi yang dibawa agar sesuai dengan data manifest masing-masing sekolah.

"Menjaga kualitas makanan agar tidak tumpah atau rusak, terlebih tidak berubah bentuk. Biasanya disarankan agar berkendara secara stabil," ujarnya.

Artinya, cara berkendara menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas makanan. Driver tidak hanya mengejar waktu tiba di sekolah, tetapi juga harus memastikan makanan sampai dalam kondisi baik.

Berpegang pada Aturan 4 Jam

Keamanan makanan selama perjalanan juga menjadi perhatian utama. Divisi distribusi SPPG Badean 2 berpegang pada rules of four hours atau aturan empat jam yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

Karena itu, kebersihan kendaraan, kebersihan petugas distribusi, serta durasi perjalanan menjadi bagian yang diperhatikan.

SPPG Badean 2 juga mengedukasi penerima manfaat agar memahami aturan tersebut sehingga keamanan makanan tetap menjadi perhatian hingga diterima dan dikonsumsi siswa.

Penyerahan di Sekolah

Sesampainya di sekolah, driver tidak langsung meninggalkan lokasi. Ada sejumlah prosedur yang harus dilakukan sebelum makanan diserahkan.

Di antaranya pengecekan berkas berita acara, menghitung jumlah paket atau porsi yang dikirim, serta menginformasikan jumlah porsi khusus bagi siswa yang memiliki intoleransi terhadap makanan tertentu.

Setelah seluruh makanan selesai didistribusikan, driver kembali ke SPPG. Namun, sebelum melakukan penjemputan wadah kosong, driver memiliki jeda sekitar satu hingga dua jam.

Dalam rentang waktu tersebut, driver dapat melaporkan kejadian khusus selama perjalanan maupun informasi tertentu dari pihak sekolah kepada staf SPPG.

Kendaraan juga dibersihkan dan dipastikan kembali dalam kondisi siap digunakan untuk membawa pulang wadah makanan kosong.

Ompreng Dicek Kembali

Untuk proses pengembalian wadah makanan atau ompreng, PIC masing-masing sekolah memberikan jumlah wadah kosong kepada driver.

Jumlah tersebut kemudian dicek ulang oleh driver SPPG. Setelah jumlah dinyatakan lengkap, wadah dimuat ke kendaraan untuk dibawa kembali ke SPPG.

Proses tersebut menjadi bagian dari pengawasan agar jumlah wadah yang dikirim dan dikembalikan dapat terpantau.

Bagaimana Jika Kendaraan Bermasalah?

Kendala di perjalanan seperti kemacetan maupun kerusakan kendaraan juga sudah diantisipasi dalam prosedur distribusi.

Jika mengalami masalah, driver diminta tidak berhenti sembarangan. Kendaraan harus ditepikan ke lokasi yang aman, bukan berhenti di tengah jalan.

Driver kemudian memeriksa kondisi kendaraan dan memastikan keamanan muatan. Setelah itu, driver menghubungi kepala dapur atau asisten lapangan untuk mendapatkan arahan mengenai tindakan selanjutnya.

"Keamanan muatan, kendaraan dan driver wajib diperhatikan, mengingat aturan empat jam masih berlangsung," kata Yulia.

Pengawasan terhadap pelaksanaan prosedur distribusi dilakukan oleh kepala SPPG bersama asisten lapangan. Keduanya memastikan tahapan yang telah ditetapkan dijalankan oleh petugas di lapangan.

Bukan Sekadar Mengantar Makanan

Yulia menegaskan, pekerjaan sebagai petugas distribusi MBG memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengantarkan makanan ke sekolah.

Menurutnya, para petugas harus memahami bahwa program tersebut berkaitan dengan upaya membangun kualitas generasi masa depan.

"Pemahaman jenis pekerjaan ini adalah untuk membangun masa depan bangsa dan negara menjadi lebih baik. Oleh karena itu dibutuhkan disiplin dan integritas yang tinggi untuk melaksanakannya," tegasnya.

Ia berharap seluruh petugas SPPG, terutama driver, mematuhi peraturan dan standar operasional yang berlaku di lapangan.

Dengan disiplin tersebut, kualitas makanan dapat tetap terjaga sejak keluar dari dapur SPPG hingga diterima siswa, sekaligus meminimalkan risiko yang tidak diinginkan selama proses distribusi. (dw)
Ahmedabad