ZoyaPatel

DPR RI Soroti Risiko AI di Kampus Islam: Ina Ammania Minta Mahasiswa Hindari Plagiarisme dan Dosen Tak Boleh Gaptek

Mumbai
Bondowoso, (RuangBicara.Id) – Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, mewanti-wanti seluruh civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) agar bijak dan tidak terbuai oleh kepraktisan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ia menegaskan bahwa kemudahan AI tidak boleh mengikis tradisi literasi apalagi memicu praktik plagiarisme di lingkungan kampus.

Pesan tegas tersebut disampaikan Ina saat hadir dalam forum Ngobrol Pendidikan Agama Islam (Ngopi) bertema “Membentuk Generasi Perguruan Tinggi Keislaman (PTKI) Unggul: Berkarakter Pesantren, Berwawasan Global dan Responsif Terhadap Zaman” di Grand Padis Hotel, Bondowoso, Selasa (22/9/2026).

"Ketika membuat skripsi, AI membantu memberikan informasi, tetapi harus diawasi, jangan plagiasi. Mahasiswa itu tugasnya belajar dan membaca buku, bukan plagiasi," ujar legislator dari PDI Perjuangan tersebut di hadapan 500 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi.

Dosen Wajib Melek Teknologi, Kompetensi Harus Tanpa KKN

Ina menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap penggunaan AI dalam pengerjaan karya akademik.

Karena itu, ia mendorong para dosen untuk ikut beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu menyaring dan menguji keaslian karya ilmiah mahasiswanya. "Dosen itu berkewajiban belajar juga, nggak bisa gaptek," cetusnya.

Selain isu digital, Ina menyoroti persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Menurutnya, lulusan PTKI harus dibekali wawasan global, penguasaan bahasa asing, serta nilai-nilai karakter pesantren seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Namun, ia menolak tegas konsep penyerapan kerja yang berbasis jaminan instan tanpa proses seleksi yang adil. Bagi Ina, iklim kompetisi yang sehat dan bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) adalah kunci melahirkan SDM berkualitas tinggi.

"Saya berharap ada kompetisi sehingga mereka bersaing. Nah, yang digarisbawahi tidak ada KKN. Kalau berprestasi kenapa enggak? Makanya saya garis bawahi harus berprestasi dan berkompetensi," tegas Ina.

AI Tak Mampu Menggantikan Peran Pendidik

Pandangan Ina Ammania ini sejalan dengan yang disampaikan Dekan FTIK UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Abdul Mu’is. Mu'is sepakat bahwa kemudahan mengerjakan tugas lewat AI dalam waktu hitungan menit tidak menjamin mahasiswa paham akan materi yang dipelajari.

Ia menambahkan, secanggih apa pun teknologi AI, peran pendidik sebagai pendoa dan keteladanan moral tidak akan pernah bisa tergantikan oleh mesin.

Melalui pengawasan ketat terhadap AI dan pembentukan iklim akademis yang jujur serta kompetitif, Ina Ammania optimistis perguruan tinggi keislaman mampu mencetak generasi emas yang berdaya saing global tanpa kehilangan akar karakter keagamaan. (dwy)
Ahmedabad