ZoyaPatel

Refleksi HSN 2026 di Bondowoso: Dari Sejarah Kontrak Politik Hingga Pesan Jas Merah Bung Karno

Mumbai
Bondowoso, (RuangBicara.Id) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Bondowoso diwarnai dengan ruang refleksi kritis dan sejarah. Puluhan mahasiswa dari enam perguruan tinggi lintas kampus berkumpul di halaman Universitas Bondowoso (Unibo) pada Kamis (22/10/2026) malam untuk mengikuti forum "Ngaji Nasionalisme".

Kegiatan yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Fakultas Hukum (HMFH) Unibo ini menghadirkan perwakilan mahasiswa dari Unibo, Unej Cabang Bondowoso, Universitas At-Taqwa, IAI Darul Falah, IAI Togo Ambarsari, dan STAI Al Ustamany.

Suasana malam hangat itu diawali dengan pertunjukan seni pembacaan 10 puisi bertemakan nasionalisme, percintaan, dan problematika sosial, sebelum memasuki sesi diskusi inti bersama dua narasumber: Wakil Ketua DPRD Bondowoso dari Fraksi PDI Perjuangan, Sinung Sudrajad, serta Dosen Fakultas Hukum Unibo, Ahmad Abrori.

Kontrak Politik dan Kilas Balik Lahirnya HSN

Dalam sesi diskusi, Sinung Sudrajad mengulas kembali akar sejarah lahirnya Hari Santri Nasional yang tidak lepas dari peran penting politisi PDI Perjuangan, Ahmad Basarah.

Sinung menceritakan, emrio HSN bermula saat Ahmad Basarah berpindah daerah pemilihan (dapil) ke Malang Raya dan bertemu dengan Pengasuh Ponpes Babussalam, yang juga merupakan alumnus GMNI UIN Malang.

Dari pertemuan tersebut, mengemuka gagasan mendalam mengenai pentingnya negara memberikan pengakuan resmi atas peran historis para santri dan ulama bagi kemerdekaan Indonesia.

Gagasan itu kemudian menemukan momentumnya pada masa kampanye Pilpres 2014. Saat Joko Widodo (Jokowi) berencana melakukan ziarah ke makam Bung Karno, Ahmad Basarah mengarahkan rombongan untuk terlebih dahulu bersilaturahmi ke Ponpes Babussalam.

"Di saat itulah terjadi kontrak politik: Apabila Jokowi menjadi Presiden, maka akan ditetapkan Hari Santri Nasional," ujar Sinung di hadapan puluhan mahasiswa.

Kritis Soal Anggaran dan Dorongan PAD Kopi

Selain napak tilas sejarah, diskusi berlangsung hangat saat para mahasiswa melemparkan nada kritis terkait kebijakan pemerintah pusat yang dinilai kurang efisien dalam penggunaan anggaran. 

Mahasiswa menilai hal ini berdampak langsung pada Pemerintah Daerah yang sering kali kelimpungan dalam menjalankan pembangunan daerah, termasuk di Bondowoso.

Menanggapi kritikan tersebut, Sinung menjelaskan bahwasanya DPRD terus mendorong Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk mengoptimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar tidak melulu bergantung pada anggaran pusat.

"Ada banyak potensi PAD yang belum tergarap maksimal, salah satunya sektor usaha kopi. Jika dikalkulasi dari angka produksi green bean saja, potensi PAD yang bisa diraup Pemda mencapai ratusan miliar rupiah per tahun," tegasnya.

Pesan Jas Merah Bung Karno

Mengakhiri pemaparannya, Sinung mengajak seluruh elemen mahasiswa Bondowoso untuk memegang teguh pesan moral dari Presiden Pertama RI, Soekarno, yaitu Jas Merah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah).

"Dari sejarah kita bisa belajar dari para pendahulu kita. Sejarah juga akan menjadi pemantik lahirnya gagasan terbaik untuk kemajuan bangsa kita di masa depan," pungkasnya. (dwy)
Ahmedabad