Kelola hingga 100 Kg Sampah Harian, SPPG Bondowoso Badean 2 Gandeng Bank Sampah Induk Paguan Berseri
Mumbai
Ahmedabad
Bondowoso, (RuangBicara.Id) — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso Badean 2 menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Memproduksi sekitar 3.000 porsi makanan setiap hari, SPPG Badean 2 menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu bekerja sama dengan Bank Sampah Induk Paguan Berseri Bondowoso.
Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, menyampaikan bahwa langkah kemitraan ini diambil guna mencegah penumpukan limbah dapur yang berpotensi menjadi masalah lingkungan jika dibuang langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Dengan kapasitas produksi hampir 3.000 porsi per hari, limbah yang dihasilkan tentu cukup besar. Karena saat ini SPPG belum bisa mengelola seluruh hasil limbah secara mandiri, kami berinisiatif menjalin kerja sama dengan bank sampah sejak awal operasional kami pada 6 Oktober 2025," ujar Yulia Linda Lestari.
Setiap harinya, SPPG Bondowoso Badean 2 menghasilkan rata-rata 70 hingga 100 kg sampah, mulai dari sampah plastik, kardus, kemasan, hingga sisa bahan makanan.
Seluruh volume sampah tersebut berhasil dipilah dan disalurkan secara konsisten ke bank sampah.
Kemitraan yang dijalankan menggunakan sistem setor pilah. Mekanisme pengelolaan sampah di SPPG Badean 2 berjalan ketat melalui empat tahapan utama:
- Pemilahan: Sampah dipilah langsung di dapur berdasarkan jenisnya oleh para petugas/relawan.
- Penimbangan & Pencatatan: Setiap tim menimbang hasil sampah yang telah dipilah, lalu menyerahkannya ke staf untuk dicatat.
- Penyimpanan: Sampah yang sudah terdata disimpan dengan rapi di Tempat Penampungan Sementara (TPS) tertutup.
- Penjemputan: Petugas dari Bank Sampah Induk Paguan Berseri menjemput sampah setiap sore hari.
Kerja sama ini melibatkan seluruh relawan SPPG dan pengurus Bank Sampah Induk Paguan Berseri. Dampak positif dari penerapan sistem ini mulai dirasakan secara signifikan oleh seluruh tim operasional.
"Dampak langsung yang paling terasa adalah area lingkungan dapur menjadi jauh lebih bersih, rapi, dan tidak menimbulkan bau tidak sedap karena sampah dikelola kembali dengan baik," jelas Yulia.
Selain manfaat lingkungan, program ini juga memberikan nilai tambah secara ekonomi, khususnya dalam membuka lapangan pekerjaan baru bagi pengelola sampah dan masyarakat sekitar.
Meski berjalan lancar, Yulia tidak menampik adanya tantangan operasional, terutama terkait konsistensi pemilahan sampah.
"Tantangan utama yang kami hadapi adalah konsistensi relawan dalam memilah sampah, sehingga terkadang masih ada yang tercampur. Oleh karena itu, edukasi dan pemantauan terus kami tingkatkan," ungkapnya.
Ke depan, SPPG Badean 2 berencana memperluas inovasi pengelolaan limbah secara mandiri. Salah satu rencana strategis yang akan segera direalisasikan adalah pembuatan rumah kompos dan pengembangan budidaya maggot untuk mengolah sisa sampah organik dapur secara optimal. (dwy)